LCC Rawamangun & Pulogadung

Desember 4, 2008

Fenomena “Langit Tersenyum” 1 Desember 2008

Diarsipkan di bawah: Sains — franchise bimbel @ 11:12 am

langit-tersenyum
Tidak percaya? Lihatlah fotonya! Subhanallah! Fenomena dimana dua buah bintang dan bulan sabit berkumpul bersama di langit tatkala malam hari mungkin adalah sebuah fenomena langka yang belum pernah anda saksikan sendiri. Namun yang lebih fenomenal lagi, dua bintang dan bulan sabit tersebut membentuk sebuah formasi sehingga seolah-olah mereka sedang “tersenyum”.
Itulah yang akan kita saksikan pada 1 Desember 2008. Bila anda melihat ke langit malam walau hanya dengan mata telanjang, anda akan menemukan dua buah bintang dan bulan sabit dalam posisi berdekatan dan sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sedang tersenyum. Fenomena tersebut amat jelas terlihat pada pukul 18.00 – 19.30 WIB yang melibatkan tiga buah objek yaitu Venus dan Jupiter (terlihat seolah sebagai bintang) yang menjadi mata dan bulan sabit yang menjadi mulut.
Kontan saja fenomena langka tersebut dianggap sebagai sebuah kejadian yang tak biasa. Menurut pengamatan senior editor dari majalah Sky and Telescope, Alan MacRobert, kejadian tersebut bermula pada hari Minggu dan Senin, menjelang malam Thanksgiving yang jatuh pada tanggal 4 November silam yang semuanya dapat dilahat dengan mata telanjang.
“Peristiwa ini sangat menarik dan merupakan sebuah kebetulan yang tak biasa bagi bulan sabit karena bisa berada berdekatan dengan planet Jupiter dan Venus,” terang MacRobert, seperti diberitakan di USA Today. Pada saat peristiwa itu berlangsung, bulan menjadi objek yang paling terang bersinar, sekaligus terkecil dan terdekat dengan bumi berjarak 252 000 mil. Sementara Venus berada di urutan kedua dengan jarak 94 juta dari bumi, dan yang terakhir adalah Jupiter dengan jarak 540 juta mil.
Sebenarnya ketiga benda langit tersebut seringkali datang bersamaan, namun seringnya terlalu dekat dengan matahari atau berdekatan namun tak terlihat. Menurut prediksi direktur Miami Space Transit Planetarium, Jack Horkheimer, ketiganya akan ‘bertemu’ kembali pada tanggal 18 November 2052.

sumber:

http://cesarzc.wordpress.com/2008/12/01/fenomena-langit-tersenyum-1-desember-2008/

Bimbel, Jalan Sukses Menuju PTN?

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 10:25 am

Bandung – Tidak terasa sebulan lagi para lulusan SMA akan menghadapi ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2006. Ujian ini diselenggarakan untuk menyeleksi para lulusan SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri (PTN), karena daya tampung PTN sangat terbatas. Dari 51 PTN di Indonesia, hanya sekira 90.000 peserta SPMB yang bisa diterima. Sementara, setiap tahunnya ujian SPMB diikuti lebih dari 350.000 orang. Oleh karena itu, penyelenggaraan SPMB cukup efektif untuk menyaring para lulusan SMA yang ingin kuliah di PTN.

Meskipun demikian untuk masuk PTN saat ini, jalurnya bukan hanya SPMB tetapi juga melalui jalur lain. Misalnya ITB, untuk merekrut para mahasiswanya, selain menggunakan jalur SPMB, institut tertua di Indonesia ini juga menggunakan jalur khusus (non-SPMB). Begitu juga dengan Unpad yang dalam beberapa tahun terakhir ini membuka sejumlah jalur penerimaan mahasiswa non-SPMB, di antaranya melalui program SMUP (Seleksi Mahasiswa Universitas Padjadjaran) dan ekstensi. Melalui kedua program tersebut, lulusan SMA yang berminat kuliah di Unpad bisa memanfaatkannya.

Namun, ketersediaan sejumlah jalur alternatif untuk masuk PTN, tidak menyurutkan animo lulusan SMA untuk mengikuti SPMB. Buktinya, setiap tahun SPMB diikuti sekira 350.000 orang. Mengapa mereka antusias untuk mengikuti SPMB? Hal ini disebabkan biaya kuliah bagi siswa yang diterima melalui jalur SPMB jauh lebih murah dibandingkan jalur non-SPMB.

Sebagai contoh di ITB, jika sudah diterima melalui jalur khusus, pada awal perkuliahan orang tua siswa harus membayar minimal Rp Rp 45 juta (bisa lebih sesuai dengan jumlah sumbangan yang dicantumkan saat mendaftar). Biaya tersebut di luar biaya kuliah per semester dan biaya-biaya lainnya, seperti buku dan lain-lain. Sementara, lulusan SMA yang diterima melalui jalur SPMB hanya membayar sekira Rp 2 juta, sudah termasuk biaya kuliah semester pertama.

Bimbel jalan sukses?

Adanya perbedaan biaya tersebut membuat lulusan SMA memprioritaskan SPMB sebagai langkah untuk masuk PTN yang diminati. Karena itu, sejumlah persiapan pun dilakukan untuk menghadapi SPMB, di antaranya melalui bimbingan belajar (bimbel) yang sejak dekade 1990-an dipilih para siswa untuk membantu menggolkan impiannya masuk PTN favorit.

Tidak heran, sejumlah lembaga bimbel pun kebanjiran lulusan SMA yang ingin lulus SPMB. Tetapi, apakah bimbel memang menjamin siswa untuk lulus SPMB? Jawabannya, belum tentu karena banyak juga siswa yang lulus SPMB tanpa harus mengikuti bimbel.

Ina, misalnya, lulusan SMA 4 Bandung beberapa tahun lalu itu, meski tidak ikut bimbel, berhasil diterima di Unpad jurusan Administrasi Niaga. Menurut dia, Ina tidak ikut bimbel karena pelajaran tambahan yang diberikan sekolahnya beberapa bulan menjelang SPMB sudah memadai.

“Di sekolah kan, selain belajar reguler, ada juga kelas pemantapan untuk SPMB. Kalau misalnya harus ikut bimbel lagi, bisa kecapaian, buang-buang energi,” katanya.

Selain mengikuti kelas pemantapan di sekolah, Ina juga secara khusus meluangkan waktunya belajar sendiri di rumah. Menurut dia, bimbel tidak bisa dijadikan jaminan lulus SPMB karena banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan seseorang dalam ujian SPMB.

Misalnya, kata Ina, rasa panik sebelum ujian secara psikologis akan berefek terhadap performance siswa saat mengerjakan soal-soal SPMB. Akibatnya, soal-soal yang sebenarnya dapat dengan mudah dijawab menjadi sangat sulit. Karena itu, mental pun harus dipersiapkan, misalnya dengan mengikuti sejumlah try out SPMB. Dengan mengikuti try out tersebut, kata Ina, secara tidak langsung dirinya sudah terkondisikan dengan suasana SPMB.

Lain halnya dengan Muti, siswa kelas 3 di SMA Pasundan Bandung ini merasa bimbel cukup membantu dirinya dalam menghadapi SPMB bulan depan. Dia mengikuti bimbel sejak awal kelas 3 SMA tahun lalu. Selama hampir setahun mengikuti bimbel, dia merasakan banyak manfaatnya, di antaranya dia menjadi lebih familier dengan soal-soal yang diujikan pada SPMB.

Selain itu, pengajar bimbel cukup membantu dalam memberikan sejumlah tips dan trik menghadapi soal-soal SPMB. Misalnya, dia diajarkan bagaimana mengerjakan soal-soal fisika dengan rumus cepat. Dalam soal hafalan, dia pun diberikan metode menghafal dengan cepat.

Bob Sadino Dorong Entrepreneur Lulusan SMK

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 10:11 am

JAKARTA–MI: Pengusaha Bob Sadino siap mendukung program Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk memperbanyak wira usahawan (entrepreneur) dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tanah Air.

Itu dilakukan seiring dengan bertambahnya jumlah pengangguran di tengah krisis ekonomi yang melanda hampir di seluruh dunia.

Karena itu, pengusaha dengan pakaian ciri khas celana pendek jins dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit itu siap menjadi konsultan lepas bagi Depdiknas.

Bob dalam diskusi interaktif bersama Sekretaris Jenderal Depdiknas, Dodi Nandika dan kelompok wartawan unit pendidikan di Jakarta, Jumat (21/11), menitipkan imbauan agar guru SMK harus mengubah paradigma pengajarannya, yaitu bisa membimbing siswanya ke lapangan.

“Guru tidak boleh sekadar mengajarkan teori. Guru-gurunya harus dibuka dulu mindset-nya (pola pikirnya). Harus ada shock therapy (kejutan atau tekanan) agar guru tak sebatas mengajar, tapi juga terjun langsung membimbing, mengarahkan, dan bisa membuat siswa mandiri,” kata sosok entrepreneur yang memulai usahanya dari serangkaian kegagalan demi kegagalan hingga akhirnya meraih sukses dengan bisnis supermarket dan apartemen.

Pemilik Kem Chicks supermarket yang juga mantan supir taksi dan karyawan Unilever itu berkat kerja kerasnya kemudian berubah menjadi pengusaha yang disegani di negeri ini.

Menurut Bob, pendidikan di SMK harus bertumpu kepada tiga pilar pendidikan. Pilar itu adalah learning to know (belajar untuk tahu), learning to do and to be together (belajar untuk melakukan sesuatu dan melakukan bersama masyarakat), dan learning to be (belajar untuk menjadi).

Om Bob begitu sapaannya, anak bungsu dari lima bersaudara ini, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan.

“Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah,” kata Bob.

Ia mengatakan, mengembangkan pendidikan kejuruan yang dipadukan dengan kemampuan wirausaha bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. “Oleh karena itu, siswa harus diberi pelajaran dan pengalaman yang nyata agar bisa mandiri dan kelak menjadi entrepreneur profesional,” ujarnya. (Ant/OL-01)


Sumber: Media Indonesia Online

Bahasa Indonesia Bisa Menjadi Bahasa Internasional

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 9:56 am

MEDAN–MI: Bahasa Indonesia yang juga merupakan sebagai jati diri bangsa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Spanyol, Perancis dan China, karena sudah dipelajari para murid di puluhan negara.

Kepala Balai Bahasa Medan (BBM), Prof. Amrin Saragih, di Medan, Selasa, mengatakan, dewasa ini Bahasa Indonesia telah dipelajari di 58 negara yang membuktikan bahasa Indonesia siap menjadi bahasa internasional.

“Setidaknya 168 institusi dari 58 negara telah mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak didiknya. Ini mereka lakukan sebagai salah satu upaya untuk menyambut perdagangan bebas tahun 2015,” katanya.

Selain itu, sebagai bukti bahwa Bahasa Indonesia sangat diminati bangsa asing, kini ada sekitar 700 orang asing datang langsung ke Indonesia untuk memperdalam keahliannya.

Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof. Khairil Ansari, mengatakan, Bahasa Indonesia bila dirunut sejarahnya berbeda dengan bahasa – bahasa di negara lain ketika dikukuhkan sebagai bahasa nasional.

Saat ini banyak negara di dunia tidak dapat memilih bahasa yang terdapat di dalam negaranya sendiri untuk diangkat menjadi bahasa nasional, bila dipaksakan akan menjadi arena pertumpahan darah sesama mereka sendiri.

Contoh itu dapat dilihat di India, Filipina, Somalia dan negara di Afrika lainnya yang tidak menjadikan bahasa dari negaranya menjadi bahasa nasional, yang pada akhirnya memilih beberapa bahasa yang pemakainya lebih banyak menjadi bahasa resmi di negaranya.

Bahkan ada juga yang langsung memilih bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol menjadi bahasa nasionalnya karena kesulitan memilih bahasa yang terdapat di negerinya akibat tidak adanya kesepakatan diantara mereka sendiri.

Melihat perjalanan sejarah yang sangat unik ini, sepantasnya masyarakat Indonesia berbangga hati dan mencintai bahasa Indonesia sebagai bagian yang melekat pada dirinya. (Ant/OL-02)


Sumber: Media Indonesia Online

Presiden: Gunakan Anggaran Pendidikan 20% Tepat Sasaran, Efisien, Efektif, dan Bebas Penyimpangan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — franchise bimbel @ 9:46 am

Jakarta, Selasa (2 Desember 2008) — Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar menggunakan anggaran pendidikan sebanyak 20 persen dari APBN dan APBD dengan sebaik – baiknya dalam arti tepat sasaran, efisien, efektif, dan bebas dari penyimpangan. Presiden SBY juga mengimbau agar anggaran pendidikan itu untuk benar-benar meningkatkan kemampuan atau kapabilitas dan profesionalitas dari para guru.

“Gunakan anggaran dengan tepat, bebaskan atau ringankan beban biaya pendidikan bagi saudara-saudara kita yang masih miskin melalui Program BOS, program beasiswa, dan lain – lain. Bantu dan berikan dukungan kepada para guru,” kata Presiden SBY pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2008 dan HUT PGRI Ke-63 di Stadion Tenis Gelora, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Hadir pada acara Menkominfo M. Nuh, Mendagri Mardiyanto, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Rajasa, Juru Bicara Presiden, Andi A. Mallarange, Mendiknas Bambang Sudibyo, serta sebanyak 3.500 guru, dan sejumlah gubernur, walikota, dan bupati penerima penghargaan Satyalancana Pembangunan di Bidang Pendidikan Tahun 2008. Hadir pula sejumlah guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah penerima penghargaan Satyalancana Pendidikan Tahun 2008.

Presiden SBY mengatakan, pada tahun 2005 yang lalu beliau menyatakan bahwa pemerintah memiliki program besar untuk mengangkat pegawai negeri sipil (PNS) dalam jumlah yang besar termasuk mengangkat para guru bantu. “Realisasinya dari sebanyak 901.607 orang atau hampir 1 juta sampai akhir 2008 ini, Alhamdulillah telah dapat kita angkat sebanyak 738.042 orang. Masih tersisa 163.565 orang. Insya Allah dan menjadi tugas pemerintah untuk menuntaskannya tahun 2009 mendatang. Pemerintah ingin memberikan bukti bukan janji,” katanya.

Ketua Pengurus Besar PGRI, Sulistyo, menyampaikan, tema utama peringatan HGN 2008 dan HUT PGRI Ke-63 ini adalah guru profesional, bermartabat, sejahtera, dan terlindungi menuju pendiidkan bermutu. “Kami para guru mendukung sepenuhnya apa yang Bapak Presiden kemukakan dalam berbagai kesempatan bahwa kita harus jadi bangsa terhormat dan bermartabat. Untuk mewujudkan itu semua diperlukan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, PGRI serta segenap guru dan tenaga kependidikan saat ini siap bekerjasama menjadi mitra strategis untuk mewujudkan cita – cita tersebut,” ujarnya.

Presiden SBY menyatakan, pada minggu ini, akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Guru. Pada PP ini, kata Presiden SBY, diatur sejumlah tunjangan sebagai bagian dalam peningkatan kesejahteraan guru. “Dalam PP tentang guru itu mari kita jalankan dan sukseskan semua amanat yang ada dalam Undang – Undang dan sejumlah peraturan pemerintah,” katanya.

Mendiknas menyampaikan, pemerintah tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesional guru dan kesejahteraan secara bertahap dan berkesinambungan. Mulai tahun 2006 s.d 2014,pemerintah, kata Mendiknas, terus menerus melaksanakan peningkatan kualifikasi dan melakukan sertifikasi guru secara bertahap sebagaimana diamanatkan oleh Undang – Undang (UU) No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. “Bagi mereka yang sudah memiliki sertifikat profesi, pemerintah memberikan tunjangan profesi sebesar gaji pokok PNS,” katanya.

Sementara, lanjut Mendiknas, untuk guru non-PNS akan dicari formula kesetaraannya, sehingga baik guru PNS maupun guru non-PNS yang telah memenuhi ketentuan UU tentang Guru dan Dosen, maka kesejahteraannya akan setara dengan dua kali lipat dari kesetaraan PNS pada umumnya. “Marilah Hari Guru Nasional Tahun 2008 ini kita jadikan momentum untuk menjadikan pendidikan sebagai pilar utama dalam mencapai kemajuan dan kejayaan bangsa. Di mana guru memegang peranan strategis dan penting di dalamnya. Tujuan ini dapat dicapai melalui perjuangan Bapak – bapak dan Ibu Guru sekalian dalam mempersiapkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya.***


Sumber: Pers Depdiknas

Blog pada WordPress.com.