Bandung – Tidak terasa sebulan lagi para lulusan SMA akan menghadapi ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2006. Ujian ini diselenggarakan untuk menyeleksi para lulusan SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri (PTN), karena daya tampung PTN sangat terbatas. Dari 51 PTN di Indonesia, hanya sekira 90.000 peserta SPMB yang bisa diterima. Sementara, setiap tahunnya ujian SPMB diikuti lebih dari 350.000 orang. Oleh karena itu, penyelenggaraan SPMB cukup efektif untuk menyaring para lulusan SMA yang ingin kuliah di PTN.
Meskipun demikian untuk masuk PTN saat ini, jalurnya bukan hanya SPMB tetapi juga melalui jalur lain. Misalnya ITB, untuk merekrut para mahasiswanya, selain menggunakan jalur SPMB, institut tertua di Indonesia ini juga menggunakan jalur khusus (non-SPMB). Begitu juga dengan Unpad yang dalam beberapa tahun terakhir ini membuka sejumlah jalur penerimaan mahasiswa non-SPMB, di antaranya melalui program SMUP (Seleksi Mahasiswa Universitas Padjadjaran) dan ekstensi. Melalui kedua program tersebut, lulusan SMA yang berminat kuliah di Unpad bisa memanfaatkannya.
Namun, ketersediaan sejumlah jalur alternatif untuk masuk PTN, tidak menyurutkan animo lulusan SMA untuk mengikuti SPMB. Buktinya, setiap tahun SPMB diikuti sekira 350.000 orang. Mengapa mereka antusias untuk mengikuti SPMB? Hal ini disebabkan biaya kuliah bagi siswa yang diterima melalui jalur SPMB jauh lebih murah dibandingkan jalur non-SPMB.
Sebagai contoh di ITB, jika sudah diterima melalui jalur khusus, pada awal perkuliahan orang tua siswa harus membayar minimal Rp Rp 45 juta (bisa lebih sesuai dengan jumlah sumbangan yang dicantumkan saat mendaftar). Biaya tersebut di luar biaya kuliah per semester dan biaya-biaya lainnya, seperti buku dan lain-lain. Sementara, lulusan SMA yang diterima melalui jalur SPMB hanya membayar sekira Rp 2 juta, sudah termasuk biaya kuliah semester pertama.
Bimbel jalan sukses?
Adanya perbedaan biaya tersebut membuat lulusan SMA memprioritaskan SPMB sebagai langkah untuk masuk PTN yang diminati. Karena itu, sejumlah persiapan pun dilakukan untuk menghadapi SPMB, di antaranya melalui bimbingan belajar (bimbel) yang sejak dekade 1990-an dipilih para siswa untuk membantu menggolkan impiannya masuk PTN favorit.
Tidak heran, sejumlah lembaga bimbel pun kebanjiran lulusan SMA yang ingin lulus SPMB. Tetapi, apakah bimbel memang menjamin siswa untuk lulus SPMB? Jawabannya, belum tentu karena banyak juga siswa yang lulus SPMB tanpa harus mengikuti bimbel.
Ina, misalnya, lulusan SMA 4 Bandung beberapa tahun lalu itu, meski tidak ikut bimbel, berhasil diterima di Unpad jurusan Administrasi Niaga. Menurut dia, Ina tidak ikut bimbel karena pelajaran tambahan yang diberikan sekolahnya beberapa bulan menjelang SPMB sudah memadai.
“Di sekolah kan, selain belajar reguler, ada juga kelas pemantapan untuk SPMB. Kalau misalnya harus ikut bimbel lagi, bisa kecapaian, buang-buang energi,” katanya.
Selain mengikuti kelas pemantapan di sekolah, Ina juga secara khusus meluangkan waktunya belajar sendiri di rumah. Menurut dia, bimbel tidak bisa dijadikan jaminan lulus SPMB karena banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan seseorang dalam ujian SPMB.
Misalnya, kata Ina, rasa panik sebelum ujian secara psikologis akan berefek terhadap performance siswa saat mengerjakan soal-soal SPMB. Akibatnya, soal-soal yang sebenarnya dapat dengan mudah dijawab menjadi sangat sulit. Karena itu, mental pun harus dipersiapkan, misalnya dengan mengikuti sejumlah try out SPMB. Dengan mengikuti try out tersebut, kata Ina, secara tidak langsung dirinya sudah terkondisikan dengan suasana SPMB.
Lain halnya dengan Muti, siswa kelas 3 di SMA Pasundan Bandung ini merasa bimbel cukup membantu dirinya dalam menghadapi SPMB bulan depan. Dia mengikuti bimbel sejak awal kelas 3 SMA tahun lalu. Selama hampir setahun mengikuti bimbel, dia merasakan banyak manfaatnya, di antaranya dia menjadi lebih familier dengan soal-soal yang diujikan pada SPMB.
Selain itu, pengajar bimbel cukup membantu dalam memberikan sejumlah tips dan trik menghadapi soal-soal SPMB. Misalnya, dia diajarkan bagaimana mengerjakan soal-soal fisika dengan rumus cepat. Dalam soal hafalan, dia pun diberikan metode menghafal dengan cepat.