LCC Rawamangun & Pulogadung

Desember 16, 2008

Sang Atletik tak Jeblok

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — franchise bimbel @ 5:07 pm

Tri Putri Indiyati
UNTUK seukuran siswa Sekolah Dasar, badannya tergolong tinggi. Tri Putri Indiyati yang biasa dipanggil Putri ini sambil berbisik mengaku jika tingginya hampir mencapai 150 cm. Ternyata, siswa kelas VI MI Thoriqul Huda Giripurno Batu ini rajin berlatih dan mengikuti perlombaan lompat jauh. ”Saya suka atletik atau lompat jauh sejak kelas empat. Gara-garanya sih pada waktu kelas tiga sempat minder karena pendek,” aku Putri sembari tak kuasa menahan senyum manisnya.
Dia mengaku, berlatih lompat jauh di sekolah di bawah bimbingan guru olahraga sekolah setempat. Dan ia juga mengaku latihan tambahan di rumah.
Sementara itu, sering latihan dan mengatur waktu istirahat yang cukup diakui Putri sebagai kunci untuk atlet atletik seperti dirinya. Sehingga tak heran, jika selama dua tahun berturut-turut sejak 2007 Putri berhasil menyabet juara II lomba Lompat Jauh tingkat Kota Batu yang diselenggarakan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Batu.
Terkait hal teknis untuk bisa memenangkan dua kali lomba yang diselenggarakan PASI, ia mengaku punya jurus jitu. Jika melompat ke bidang didepannya, ia sering menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan. Dan dari jurus itu, hasilnya, lompatannya bisa jauh hingga tiga sampai empat meter. ‘’Kalau menggunakan dua kaki sebagai tumpuan, jelas lompatan saya tidak bisa jauh,” jelas Putri yang juga mengaku mempunyai prestasi akademik istimewa. ‘’Meski saya mempunyai kesibukan dalam bidang atletik, namun soal prestasi akedemik, saya tidak pernah jeblok, tetap masuk 10 besar tiap tahunnya,” seru gadis berparas manis kelahiran Surabaya, 11 Agustus 1995 ini.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku menyukai hampir semua atlet lompat jauh nasional. Pun, anak pasangan Bariyati dan Cholib ini ingin mengikuti perlombaan di tingkat yang lebih tinggi. ”Ingin mengikuti perlombaan di tingkat propinsi, dan kalu bisa sampai di tingkat nasional juga,” kata Putri. Untuk mencapai tingkatan itu, Putri menyadari jika Ia harus terus berlatih secara keras. ”Pokoknya saya berusaha dengan rajin latihan, saya ingin lompatan saya lebih jauh dari yang lain,” tutup Putri.. dik-KP

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan, LCC News — franchise bimbel @ 3:20 pm
Sulistyaningrum (*)
Indonesia adalah negara berkembang yang masih mengalami berbagai proses pembangunan. Di sektor pendidikan, Indonesia masih kurang mengembangkan SDM yang dimiliki masyarakat. Buktinya, dalam sebuah survei mutu pendidikan, Indonesia menempati urutan ketiga dari bawah di antara 40 negara lain.
Sistem pendidikan di Indonesia selalu disesuaikan dengan kondisi politik dan birokrasi yang ada. Padahal menurut saya, itu bukanlah masalah utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang lebih penting adalah bagaimana pelaksanaan di lapangan, termasuk kurangnya pemerataan pendidikan, terutama di daerah tertinggal.
Fenomena yang ada di Indonesia cukup ironis. Banyaknya lulusan sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi setiap tahunnya, ternyata tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang disediakan. Hal itu jelas menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Bahkan angka pengangguran mencapai 9,5% per tahun.
Untuk menuju pemerataan pendidikan yang efektif dan menyeluruh, kita perlu mengetahui beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan kita. Permasalahan itu antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, dan keterbatasan anggaran.
Keterbatasan daya tampung sangat berpengaruh dalam proses pemerataan pendidikan. Banyak sekolah yang memiliki daya tampung tak seimbang dengan jumlah murid yang diterima saat penerimaan murid baru. Akibatnya, proses belajar mengajar pun menjadi kurang maksimal. Di Indonesia, kuota siswa dalam satu kelas masih terlalu banyak. Negara-negara maju di Austaralia hanya mendidik sekitar 20 siswa dalam satu kelas. Jika kita bandingkan, berarti kuota siswa di Indonesia dalam sekelas adalah dua kali lipat dibanding Australia. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya proses belajar-mengajar.
Sebenarnya hal itu masih berkaitan dengan jumlah tenaga pengajar yang ada. Sekolah yang ada di beberapa daerah yang masih tertinggal mempunyai masalah dengan keterbatasan tenaga pengajar. Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di lapangan disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkualitas untuk mengajar di daerah-daerah.
Aksesbilitas atau daya tampung yang tersedia di Indonesia hanya mencapai separuh dari jumlah siswa yang ada. Dengan adanya ketimpangan ini maka secara otomatis akan menjadi problem tingginya angka anak yang putus sekolah.
Untuk meminimalisasi keterbatasan daya tampung, kita dapat merealisasikan beberapa solusi yang ada. Peran sekolah swasta dan sekolah terbuka cukup signifikan mengingat makin tingginya jumlah siswa tiap tahun. Selain itu, kita dapat meningkatkan program e-learning. Metode mengajar ini dapat diterapkan bagi anak-anak yang memiliki kemapuan intelektual dan ekonomi di atas rata-rata. Dengan e-learning maka kebutuhan akan ketersediaan kelas akan terkurangi.
Selain masalah itu, minimalnya sarana prasarana yang ada juga cukup berpengaruh. Pemerataan pendidikan, terutama di daerah tertinggal, sangat memerlukan adanya peningkatan di bidang sarana prasarana. Padahal Sarana dan prasarana ini sangat vital peranannya dalam proses belajar mengajar. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran ini berkaitan dengan dana yang disediakan pemerintah.
Di tahun 2008 ini, pemerintah telah menyisihkan sekitar 20% dana APBN untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerataan pendidikan hingga daerah-daerah tertinggal tentu membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Dana BOS yang disediakan oleh pemerintah merupakan bentuk perhatian pemerintah akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi setiap orang. Meskipun belum dapat terealisasikan sepenuhnya, akan tetapi hal itu sudah cukup meminimalisasi biaya yang dikeluarkan masyarakat terutama yang berekonomi menengah ke bawah.
Pemerataan pendidikan memang tak bisa direalisasikan tanpa adanya kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat yang bersangkutan.

(*) pelajar SMA Negeri 2 Malang.

Kearifan Sang Penyengat

Diarsipkan di bawah: Inspirasi — franchise bimbel @ 3:15 pm

Oleh : NurizkaYudha
Selama hidup ini tentunya kita mengalami proses yang dinamakan belajar. Kegiatan belajar merupakan suatu kegiatan dimana kita sebagai subjeknya yang dahulunya tidak tahu menjadi tahu akan sesuatu hal. Tujuan utama kegiatan pembelajaran tentunya mendapatkan suatu ilmu yang bermanfaat. Ilmu dapat kita peroleh dari manapun, salah satunya adalah melalui kegiatan membaca. Membaca yang  dimaksud dalam kegiatan belajar ini tidak sekedar membaca sebuah buku, jurnal, majalah ataupun artikel di internet tapi juga membaca lingkungan di sekeliling kita. Bila kita memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan di sekeliling kita, serta mampu membaca lingkungan dengan baik, maka kita akan mendapatkan ilmu. Hal ini dikarenakan ilmu yang tersimpan di lingkungan sekitar kita jumlahnya banyak sekali dan tidak terbatas.
Filsafat merupakan suatu ilmu yang mengacu pada kebenaran yang hakiki. Dalam mempelajari ilmu filsafat kita dapat mempelajarinya melalui berbagai sumber. Kita bisa mempelajari filsafat dari berbagai sumber. Apapun yang ada di sekeliling kita dapat kita jadikan objek dalam berfilsafat. Makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan juga dapat kita jadikan sebagai objek filsafat. Apabila kita memperhatikan perilaku suatu hewan yang ada di sekitar kita, dapat diambil pelajaran darinya. Banyak hal yang menarik dari perilaku-peilaku hewan yang kadang-kadang manusia pun tidak pernah mau untuk memikirkannya bahkan melakukannya.
Tulisan saya kali ini, lebih menyoroti tentang suatu hewan yang saya anggap luar biasa, yaitu lebah madu. Lebah madu juga dapat dijadikan sebagai objek pembelajaran serta objek filsafat. Hewan ini dapat juga kita jadikan objek untuk berfilsafat karena memiliki  banyak keunikan yang layak untuk kita cermati serta diteladani.
Hampir semua orang mengetahui bahwa madu adalah salah satu sumber makanan penting bagi tubuh manusia, tetapi sedikit sekali manusia yang dapat menyadari sifat-sifat luar biasa dari sang penghasil madu, yaitu lebah madu. Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah sari madu bunga (nektar), yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh karena itu, lebah mencampur nektar yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh meraka. Campuran ini menghasilkan zat yang bergizi yang baru yaitu madu dan menyimpannya untuk musim dingin mendatang. Pada perilaku lebah madu ini kita dapat mempelajari bahwa kita harus menyiapkan apapun sebelum kita menghadapi sesuatu yang mungkin akan meyulitkan kita.
Hal menarik lainnya yang dapat saya tangkap dari lebah madu yaitu bila dicermati lebih dalam lagi ternyata lebah madu menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Lebah menghasilkan madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia.
Kehidupan lebah di dalam sarang dan pembuatan madunya sangatlah manakjubkan. Lebah harus melaksanakan banyak tugas dan mereka mengatur semua ini dengan pengaturan yang luar biasa. Pengaturan kelembaban dan tekanan udara misalnya, kelembaban sarang yang membuat madu memiliki tingkat keawetan yang tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembaban di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta akan hilang keawetan dan gizinya. Begitu juga suhu sarang haruslah 35 derajat celcius selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Untuk menjaga suhu dan kelembaban sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok yang bertugas menjaga pertukatan udara. Jika hari panas, terlihat lebah sedang mengatur pertukaran udara di dalam sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi oleh lebah. Sambil menempel pada kayu, mereka mengisapi sarang dengan sayap. Dalam sarang yang baku, udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain.
Lebah pengatur pertukaran udara yang lain bekerja di dalam sarang  mendorong udara ke semua sudut sarang. Perangkat pertukran udara ini juga bermanfaat melindungi sarang dari asap dan pencemaran. Perilaku lebah tersebut mengajarkan kita agar senantiasa bekerja sama dalam mencapai tujuan, serta melaksanakan tugas yang diberikan kepada kita. Tanpa mengeluh ataupun tanpa merasa iri dengan orang lain. Pada perilaku tersebut kita juga dapat mempelajari bahwa agar  memperoleh suatu hasil yang maksimal maka diperlukan suatu pembagian baik tugas ataupun waktu yang kita punya.
Upaya lebah untuk menjaga mutu madu tidak terbatas hanya pada pengaturan kelembaban dari anas. Di dalam sarang terdapat jaringan pemeliharaan kesehatan yang sempurna untuk mengendalikan segala peristiwa yang mungkin menimbulkan bakteri. Prinsipnya adalah mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, ada dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga  memasuki sarang walau sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah bertindak untuk mengusirnya dari sarang. Lebah mengajarkan kita bahwa antisipasi atas segala kemungkinan diperlukan.
Dalam masyarakat lebah, kita mengenal adanya lebah ratu, lebah pejantan, dan lebah pekerja. Ketiga macam jenis lebah ini tentunya memiliki tugas yang berbeda-beda. Ketiganya menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Antara yang satu dan yang lain tidak ada yang merasa iri. Seharusnya manusiapun juga seperti itu menempatkan dirinya pada posisi masing-masing yang telah ditentukan dan berusaha menjalankan tuganya dengan baik. Di dalam sebuah organisasipun demikian, serupa dengan yang ada di dalam sarang lebah yaitu bahwa di dalamnya telah terbentuk tugas-tugas yang harus diselesaikan, serta menempatkan diri pada posisinya masing-masing. Selain unsur bekerja keras di sini juga tidak lepas pada unsur bekerjasama dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.

Sekolah Tersaingi Bimbingan Belajar, Betulkah?

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan, LCC News — franchise bimbel @ 3:12 pm

Sekolah Tersaingi Bimbingan Belajar. Begitu judul headline Koran KOMPAS di Rubrik Humaniora yang terbit Kamis lalu (2/4/08). Setelah membaca dan mencermati isi berita tersebut, menulis terdiam sejenak dan kemudian berpikir keras atas sejumlah pertanyaan yang muncul di kepala. Betulkah sekolah telah tersaingin oleh Bimbingan Belajar (Bimbel)? Apakah sekolah dan Bimbel layak dipersaingkan/diperbandingkan? Apa begitu jelek image kondisi sekolah saat ini? Ukuran-ukuran yang digunakan apa sudah tepat untuk memperbandingkan antara keduanya. Itulah sejumlah pertanyaan yang mampir di kepala penulis.

Sesungguhnya antara sekolah dan Bimbel memiliki orientasi yang sangat berbeda meskipun dikemas dalam konteks pendidikan. Bimbingan belajar bagi penulis lebih tepat jika disebut bimbingan tes. Mengapa? Proses belajar yang diberikan semata-mata ditujukan kepada pemberian kemampuan kepada siswa untuk dapat menjawab tes-tes yang diujikan. Baik tes ujian semester maupun tes ujian nasional. Di lain sisi, sekolah memfasilitasi proses belajar untuk  mengembangkan anak secara utuh dan komprehensif. Tidak hanya membelajarkan anak untuk tujuan-tujuan khusus seperti sekadar lulus ujian. Sekolah memfasilitasi anak belajar untuk memberikan pengalaman belajar bukan pengalaman menyelesaikan soal, mengembangkan kreativitas, mengembangkan sikap, dan mengembangkan keterampilan siswa.

Suatu hal yang sangat berbahaya jika masyarakat kita mereduksi arti pendidikan untuk sekadar lulus ujian. Sehingga bimbingan tes yang sifatnya praktis dan pragmatis menjadi pilihan mereka. Betapa berbahaya jika siswa sekadar diajari menyelesaikan soal-soal dengan menggunakan berbagai trik tanpa didasari pemahaman materi yang baik. Mereka bisa kelihaan cerdas tetapi sesungguhnya kropos.

Dalam hal membandingkan antara jumlah siswa di kelas Bimbel dan sekolah juga bukan ukuran yang tepat untuk mengatakan Bimbel lebih baik. Jumlah siswa yang sedikit memang memberikan kesempatan yang banyak kepada siswa untuk berinteraksi dengan tutor. Tetapi, lagi-lagi hal itu hanya bermanfaat untuk kepentingan pragmatis untuk lulus ujian. Jumlah siswa yang banyak, 20 -25 orang dalam satu kelas juga tidaklah selamanya jelek. Bila kita menekankan kepada aspek pengembangan sosial kepribadian anak, jumlah tersebut sangat bagus untuk mengembangkan interaksi sosial anak. Mereka dapat bergaul dan bersosialisasi dengan banyak teman yang memiliki latar belakang berbeda. Sementara jumlah siswa yang kecil di dalam Bimbel cendrung membuat pergaulan anak menjadi ekslusif.

Pemberian layanan yang kelihatan lebih kreatif dan variatif  bagi Bimbel menurut penulis lebih disebabkan sebagai ‘jualan’ semata. Strategi bisnis untuk dapat menarik calon peserta Bimbel. Menciptakan kesan yang bagus melalui promosi ‘produk’ untuk mendapatkan ‘pelanggan’ yang sebanyak-banyaknya. Disadari atau tidak, Bimbel telah berkembang menjadi salah satu komoditas bisnis di bidang pendidikan.

Untuk membuktikan sinyalamen tersebut di atas, mari kita perhatikan besar pembayaran yang menjadi beban bagi siswa Bimbel. Seperti yang diuraikan dalam artikel KOMPAS tersebut, setiap siswa membayar 2 juta hingga 3 juta selama enam bulan. Artinya, dalam tiga tahun (jika kita ibaratkan seperti proses pendidikan di sekolah), mereka mesti mengeluarkan uang 12 juta hingga 18 juta. Bandingkan dengan pembayaran SPP di sekolah-sekolah saat ini yang dituntut gratis karena sudah adanya dana BOS dari pemerintah untuk tingkatan pendidikan dasar.  Jadi, Bimbel kelihatan hanya cocok untuk orang kaya, tetapi tidak bersahabat bagi orang miskin.

Dalam hal persiapan ujian nasional, sesungguhnya sekolah-sekolah juga memberikan bimbingan belajar dan berbagai program untuk siswa agar mereka dapat lulus. Dengan berat hati, penulis terpaksa memamarkan program-program yang kami lakukan di sekolah kami (SMP YPS Singkole, Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan) dalam rangka persiapan UN yang bisa dibandingkan dengan program Bimbel. Program-program kami berikan secara gratis, sebagai berikut.

1. Bimbingan belajar sore hari selama lima kali seminggu dengan jumlah siswa berkisar 7-10 orang.

2. Bimbingan belajar pada hari Sabtu pagi (Sekolah kami menerapkan 5 hari kerja/minggu).

3. Try out ujian nasional sebanyak delapan kali (dua kali sebulan) mulai Januari hingga April yang proses pelaksanaan dan pemeriksaannya dilakukan dengan standard ujian nasional. Hasil-hasil try out diberikan dan dikomunikasikan ke orang tua melalui pertemuan individula guru bidang studi dan wali kelas dengan orang tua siswa.

4. Mendatangkan motivator/psikolog untuk memberikan motivasi dan penanganan mental siswa.

5. Memberikan jam konsultasi khusus kesulitan belajar dan masalah lainnya.

Penulis menyadari bahwa proses belajar yang dilakukan di Bimbel memang memiliki sisi menarik. Tetapi, untuk membandingkan antara sekolah dan Bimbel rasanya tidak tepat karena keduanya memiliki orientasi yang tidak persis sama. Tidak sekadar berorientasi meluluskan siswa lulus ujian. Begitu juga dengan membuat klaim bahwa layanan sekolah kurang bagus dibandingkan dengan Bimbel tidak sepantasnya dilakukan apalagi dengan ukuran-ukuran yang tidak berdasar.

Penelitian Masih Lesu, SDM Rendah

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan, LCC News — franchise bimbel @ 3:07 pm

UIN-Pengembangan sains dan teknologi (saintek) berupa penelitian berdampak signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa. Jepang sebagai salah satu negara dengan budget (anggaran) penelitian yang tinggi membuktikan hal itu.
Dengan dana penelitian tak kurang dari empat persen dari total APBN, Jepang memimpin dunia internasional dengan keunggulan tenologi inovatifnya. Selain itu, menghasilkan peneliti kelas dunia yang memberikan terobosan baru dalam berbagai bidang saintek, semisal otomotif dan informatika.
Indonesia sebagai salah satu negara dengan kultur penelitian yang masih lemah, bisa menerapkan langkah seperti Jepang. Terutama dimulai dari membangun SDM warga negara. Salah satunya dengan membudayakan penelitian sebagai bagian dari keseharian warganegaranya.
Demikian salah satu poin penting dalam Sekolah Penelitian Umum (SPU) yang diadakan Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Jumat (12/12) lalu.
Pada agenda yang diselenggarakan selama tiga hari ini, ketua pelaksana SPU, Nurul Hasanah, masih melihat lesunya kegiatan penelitian yang ada di Indonesia. Pihaknya terus berupaya keras menanamkan penelitian sebagai bagian terpenting dalam pengembangan SDM warganegara Indonesia.
“Sebab dengan penelitian, manusia dilatih membaca, menulis, dan menganalisis sekaligus. Semua potensi yang ada dalam diri manusia tersebut benar-benar diberdayakan,” terangnya.
Untuk itu, peneliti muda LKP2M ini menyarankan agar kegiatan penelitian secara terus kontinyu dikenalkan dan ditanamkan kepada masyarakat, diharapkan dari situ setidaknya dapat mengubah kualitas SDM masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik. “Dengan begitu, saya yakin SDM Indonesia tak lama lagi akan sejajar dengan Jepang,” pungkasnya. .ang-KP

Kejari Bumikan Anti Korupsi lewat Kantin Kejujuran

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — franchise bimbel @ 1:56 pm

MALANG - Kejujuran memang harus diterapkan sejak dini, prilaku ini akan mempengaruhi kepribadian manusia kelak dewasa jika terus menerus dilakukan. Karena itu, Kejaksaan Negeri Malang bersama dengan Pemkot Malang, menyamakan langkah untuk memberikan pelajaran bagi siswa agar tidak melakukan korupsi, melalui kantin kejujuran.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang, Witono SH, mengutarakan, penanaman kejujuran, bagi anak-naka sangat penting. Sebab menurut dia anak-anak ini merupakan kepribadian yang masih bersih.Kepribadian yang bersih ini, masih mudah ditanamkan rasa kejujuran, dengan harapan kelak mereka dewasa, tetap memegang teguh nilai-nilai kejujuran, sehingga tidak berani mengambil yang bukan haknya atau berkorupsi. Guna menanamkan kejujuran itu, kedepan di Kota Malang ini akan ada mata pelajaran anti korupsi.
Pelajaran tersebut diupayakan akan menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang masuk kurikulum sekolah. Pihaknya juga menarjetkan di seluruh sekolah di Kota Malang ini harus ada kantin kejujuran. Sehingga seluruh siswa bisa belajar dengan cara membeli makanan dan mengambil uang kembali sesuai dengan harga.Kantin Kejujujuran yang diresmikan secara simbolik di SD Pandanwangi I kemarin, juga dilakukan di lima sekolahan lainnya. Untuk tingkat SD selain di Pandanwangi I juga diresmikan untuk SD Tunjungsekar I.Sedangkan untuk tingkat SLTP, yang diresmikan adalah kantin jujur SMP 5 dan SMP 10. Sedangkan untuk tingkat SLTA, masing-masing SMU 10 dan SMU 5. Kedepan diharapkan secara berjenjang seluruh sekolah memiliki kantin jujur.
Sementara itu, Wali Kota Malang dalam sambutanya mengutarakan, jujur adalah modal dasar anti Korupsi, jika pejabat penyelengara pemerintah sudah jujur maka rakyatnya akan makmur.“Seperti telah dipesankan oleh Bapak Presiden, bahwa seluruh pejabat harus tidak korupsi. Jika pejabatnya tidak korupsi, maka rakyat akan sejahtera,” urai Wali Kota Malang Peni Suparto.
Pembelajaran anti korupsi ini dilakukan di kantin kejujuran, cara ini sebenarnya sangat sederhana, tetapi mampu menanamkan rasa jujur kepada para siswa. Selain itu juga bisa menambah kepercayaan siswa kepada Allah SWT. “Kantin ini selalu di jaga oleh Allah SWT, jadi meski tidak dijaga sebenaranya tetap dalam pengawasan Allah. Inilah kelebihan dari pembelajaran kejujuran. Dengan cara siswa mengambil kue dan membayar sendiri serta mengambil uang kembalinya sendiri, setelah dewasa dia akan menjadi orang yang jujur dan tidak mau mengambil yang bukan haknya (Korupsi),” tukas Peni Suparto.
Sementara itu Kepala SDN Pandanwangi I Suparti, kepada wartawan mengutarakan, pihaknya membuka kantin kejujuran itu sudah sejak dua bulan yang lalu. Bulan ini merupakan bulan ketiga.Dia menyatakan kalau saja kantin kejujuran ini mendapat respon dari Kejari pihaknya sama sekali tidak menduga. Dan itu menurut dia hanya secara kebetulan saja, program yang dijalankan sinergi dengan Kejari.
Pihaknya bersyukur sebab setelah buka hingga sekarang, semuanya berjalan susuai dengan rencana. Bahkan berdasarkan laporan dari pengelola belum pernah sekalipun ada selisih uang. Itu menurut dia, suatu pertanda bahwa kantin kejujuran direspon baik oleh siswa. . bin-KP

Lulusan SMK Tak Mampu Bersaing

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — franchise bimbel @ 12:30 pm

Menyambut akhir tahun 2008, pendidikan kejuruan di Kediri seakan mendapat pukulan telak.  Sebuah penelitian yang dilakukan Bappeko Kota Kediri bersama Universitas Negeri Surabaya menunjukkan, kualifikasi lulusan tidak memadai untuk bersaing dalam bursa kerja. Atau kata lain, kompetensi lulusan SMK di Kediri kurang sesuai dengan tuntutan pasar. Hasil penelitian tersebut diseminarkan dengan tema Pengembangan Pendidikan Menengah Kejuruan-Restrukturisasi Kurikulum SMK Kota Kediri, Jumat (12/12) lalu di Kediri.
Sekretaris Lemlit Universitas Negeri Surabaya, Dr Suyono MPd, mengatakan, kondisi tersebut disebabkan  kurikulum yang tidak akomodatif terhadap wacana perubahan global, serta perubahan paradigma kehidupan dan pembelajaran. Hasil evaluasi penelitian yang mencakup seluruh SMK negeri-swasta se Kota Kediri menunjukkan bahwa pencapaian komponen kurikulum dan pembelajaran berada pada angka jauh dibawah 80 persen.
“Kurikulum yang kurang akomodatif menyebabkan terapan pembelajaran menjadi tidak menarik dengan kehadiran siswa di kelas kurang dari 90 persen. Imbas yang lain adalah terputusnya jalur peluang kerja lulusan sehingga kecenderungan jumlah lulusan yang diterima di pasar kerja dari tahun ke tahun menurun drastis,” terang Suyono.
Lebih lanjut Suyono menyebutkan, hasil angket yang disebarkan pada guru dan siswa menunjukkan, pengelolaan dan pembelajaran SMK di Kediri sudah sesuai dengan pengelolaan dan pembelajaran untuk sekolah menengah kejuruan. Namun, hasil evaluasi diri menunjukkan bahwa kurikulum yang diterapkan SMK di Kediri belum beroientasi pada penggunaan KTSP. Padahal inti KTSP adalah penguatan pada muatan lokal, berorientasi pada stakeholder, tuntutan pasar kerja, maupun pengembangan life skill. Dus, SMK di Kediri dinilai tidak memiliki kejelasan mengenai pengembangan jiwa kewirausahaan.
Vocasional skill pada SMK bercirikan adanya modul sebagai perangkat pembelajaran dengan mengangkat muatan lokal sesuai tingkat satuan pendidikannya. Namun penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat ketidakjelasan pengunaan perangkat pembelajaran yang angkanya cukup siginifikan. “Hal-hal tersebut terkorelasi sebagai penyebab kehadiran siswa di kelas tidak mencapai 90 persen,” tukas Suyono.
Mengenai tingkat keterserapan dan masa tunggu lulusan SMK Kota Kediri, Suyono menyebutkan bahwa lulusan tidak terampil terhadap bidang kejuruan mereka. Hal ini diperparah dengan kurang berkembangnya keluwesan, kemandirian, dan daya saing dalam dunia kerja. Ketidakjelasan kontribusi dunia usaha dalam penyusunan kurikulum SMK menyebabkan terputusnya jalur peluang usaha kerja lulusan. Selain itu tingkat keterserapan lulusan sangat rendah, yang berdampak lanjutan waktu tunggu lulusan menjadi sangat jauh dari skala ideal, yaitu enam bulan. ”Jika semua SMK berbenah sekarang, paling cepat 10 tahun lagi baru bisa dicapai kondisi ideal,” kata Suyono. (*)

Gara-gara Terlambat Ikut Bimbel, Johan Dipukul Guru

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 12:03 pm

Gara-gara terlambat mengikuti bimbingan belajar (bimbel), Johan Maulana Ibrahim (14), warga Jalan Simo Gunung Baru Jaya I E, menjadi korban kekerasan gurunya sendiri.

Siswa kelas XI F SMP Negeri 42 Surabaya itu dipukul di bagian kepalanya oleh Mustain (45), guru PPKn SMP yang ada di Jalan Dupak Rukun itu.

“Saya sampai pusing karena dipukul,” ujar Johan kepada wartawan di rumah kerabatnya di Jalan Petemon Sidomulyo II, Sabtu (6/12/2008).

Didampingi ibunya, Ny Choiliayah (37), Johan menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada Rabu (3/12/2008) lalu. Saat itu, kata Johan, dirinya terlambat masuk kelas bimbel. Saat masuk, kelas sudah mengadakan doa sebelum bimbel dimulai.

Saat itu Johan langsung masuk, duduk di kursinya dan ikut berdoa. Namun setelah itu Johan dipanggil Mustain dan langsung dipukul. Johan mengaku terlambat masuk kelas karena tertidur di pos penjagaan sekolah akibat kelelahan.

Choilayah sendiri menyesalkan perkataan Mustain tentang almarhum bapak Johan saat memberikan hukuman. “bapakmu sudah tidak ada tapi kamu kok tetap nakal,” ujar Johan menirukan perkataan Mustain.

Bahkan, kata Johan, sehari setelah peristiwa itu, di ruang kepala sekolah, Didik Wahyu Wibowo, dirinya sempat diancam akan dipukul dengan alas kaki yang diapakianya bahkan jika perlu dengan kursi jika membesar-besarkan kejadian itu. Didik bisa menenangkan Mustain.

Sementara itu, pihak SMP Negeri 42 melalui wakasek kesiswaan, Wimbo Wibisono, mengatakan kasus tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua belah pihak sudah saling berjabat tangan dihadapan Didik. Sayangnya Wimbo tak mau menjelaskan sanksi yang akan dikenakan ke Mustain akibat perbuatannya tersebut.(iwd/fat)

Kunci Pendidikan adalah Penguatan Tradisi Belajar

Diarsipkan di bawah: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 10:37 am

Prof Dr Suhadi Ibnu
Sejak 11 November lalu, komposisi kepengurusan Dewan Pendidikan Kota Batu mengalami restrukturisasi. Guru Besar Pendidikan Sains UM, Prof Dr Suhadi Ibnu ketiban sampur memimpin hingga lima tahun mendatang. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, salah satunya mengangkat prestasi Ujian Nasional Kota Batu yang tahun ini berada di urutan 36 dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur.
Bagaimana sang ketua Dewan Pendidikan terpilih ini memandang realita pendidikan Kota Batu? Apa saja yang akan dilakukannya dalam jangka pendek, menengah dan panjang untuk ndandani pendidikan di kota ini? Berikut penuturannya kepada Didik Harianto dari KORAN PENDIDIKAN saat berkunjung ke kediamannya, Jalan Panglima Sudirman IV/114 Batu, Sabtu (13/12).

Bagaimana Bapak memandang wajah pendidikan Kota Batu saat ini?
Menurut saya, tentu saja masih memerlukan perbaikan di segala bidang. Tentunya kami ingin mempunyai gambaran dulu untuk peningkatan mutu pendidikan di Batu. Peningkatan itu pasti. Secara umum, pendidikan di Batu itu juga masih begitu (sambil menunjukkan ekspresi kecewa). Kecuali untuk beberapa sekolah yang memang sudah menjadi unggulan dan beberapa sekolah swasta yang memang bagus sedangkan yang lainnya masih tanda tanya. Kita perlu konsep yang mapan.

Apa sebenarnya kekurangan yang perlu dibenahi untuk pendidikan di kota ini? Paling penting, apa yang harus segera dibenahi?
Semua sektor, banyak hal tentunya yang harus segera dibenahi. Pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Kalau kita petani (bedah-red) satu per satu, mayoritas sekolah masih di bawah ke delapan standar tersebut. Tapi sekali lagi, seperti yang telah saya sampaikan tadi, ada pengecualian untuk beberapa sekolah yang memang sudah menjadi unggulan dan beberapa sekolah swasta yang memang bagus. Saat ini yang paling urgent adalah kualitas proses. Inti kualitas pembelajaran ada di situ. Begini, bagaimana membuat anak mempunyai komitmen yang tinggi untuk belajar. Harusnya, yang harus lebih aktif itu siswanya, sedangkan guru atau dosen hanya sebagai fasilitator. Peran guru yang dominan memberi materi harus dibenahi. Realitanya memang masih dominan guru kok. Mungkin mereka mengejar target kurikulum saja, takut tidak tercapai dan sebagainya. Jika kualitas proses ini benar-benar dijalankan, konsekuensinya tentu sarana dan prasarana, SDM, dan semuanya harus siap. Intinya, butuh perbaikan di segala bidang dan yang paling urgent sekarang adalah kualitas proses tersebut.

Dewan Pendidikan berdiri atas pemikiran apa, pak?
Dewan Pendidikan itu amanat UU Pendidikan. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional ada amanat jika kota dan kabupaten harus ada komite. Intinya, Dewan Pendidikan berdiri sebagai tempat mengakomodir peran masyarakat sesuai amanat UU tersebut

Dalam tubuh Dewan Pendidikan, apa saja komponen dan siapa saja yang ada di dalamnya?
Dewan Pendidikan Kota Batu saat ini terdiri dari beberapa komponen, antara lain pakar pendidikan, tokoh masyarakat, pelaku dunia usaha, komite sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Pendidikan Agama, dan juga dari Komisi C DPRD Kota Batu sebagai penasehat Dewan Pendidikan.

Dengan komposisi seperti itu, apakah dirasa sudah cukup efektif untuk menjalankan Dewan Pendidikan ini?
Menurut saya, dengan kekuatan 17 orang tersebut sudah cukup efektif, asalkan bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana sebenarnya garis koordinasi antara Dewan Pendidikan, Dinas Pendidikan, dan DPRD Kota Batu?
Tidak ada garis organisasi yang instruktif, sifatnya kemitraan. Dewan Pendidikan tidak punya kekuasaan, tidak bisa mengeksekusi sebuah kebijakan, tetapi kalau DPRD masih punya kekuatan untuk itu.

Kalau berbicara fungsi, sebenarnya apa saja fungsi dari Dewan Pendidikan ini?
Baik, ada empat fungsi dari Dewan Pendidikan ini. Empat fungsi itu antara lain sebagai Advisor, Supporting, Mediator, dan Control. Saya jelaskan, fungsi advisor disini berarti Dewan Pendidikan diharapkan bisa memberi masukan kepada Pemerintah Kota ataupun bidang-bidang pendidikan yang lain. Kemudian fungsi supporting adalah kita mendukung kebijakan-kebijakan pihak terkait yang berhubungan dengan pendidikan. Fungsi mediator adalah Dewan Pendidikan menjadi badan penyambung aspirasi dari bawah untuk disampaikan kepada pihak terkait. Terakhir, fungsi control itu hanya sebatas kontrol atau pengawas jika ada hal-hal yang dirasa kurang pas, setelah itu kita berusaha untuk memberi masukan.

Dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, apa saja yang akan dilakukan oleh Dewan Pendidikan?
Dewan Pendidikan untuk jangka panjang ingin merumuskan visi dan misi pendidikan di Kota Batu ini. Sedangkan untuk jangka menengahnya kita ingin membenahi manajemen dan mekanisme pendidikan untuk menjadi lebih baik. Jangka pendeknya, seperti yang saya sampaikan tadi, kita ingin proses pendidikan di sekolah-sekolah berjalan dengan baik.

Berbicara halangan, tentu saja dalam perjalanan Dewan Pendidikan nantinya tidak akan bisa mulus. Sudah memetakan halangan, apa saja yang kira-kira akan dihadapi?
Kita mencoba melihat lagi visi dan misi atau tujuan pendidikan Batu atas dasar potensi yang dimiliki. Tentunya kita perlu adanya data base pendidikan, contohnya keinginan masyarakat itu seperti apa. Keinginan itu kita lihat juga terkait potensi yang kita miliki.

Kalau keinginan Dewan Pendidikan untuk pendidikan di Kota Batu sendiri seperti apa?
Secara umum, tentunya ingin menjadi lebih baik. Perlu dibenahi segala aspek di dalamnya, pun dengan mekanismenya, contohnya jika pengelolaannya bagus, produk yang dihasilkan dengan sendirinya akan menjadi lebih baik. Kita berharap, peran serta masyarakat lebih meningkat. Masyarakat sebenarnya telah menyadari jika pendidikan itu penting. Mereka bisa membantu pemikiran, bantuan dalam bentuk materi juga boleh. Kita sama-sama tahu, dana untuk pendidikan yang bermutu masih jauh dari cukup. Jika menginginkan pendidikan yang berbasis ICT (Information, Communication, and Technology) tentunya dana BOS tidak akan nutut. Perusahaan-perusahaan besar juga bisa membantu pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility). Pun dengan fenomena UN, ini menyedihkan, sekolah-sekolah berusaha kesana. Meskipun begitu, tidak boleh melupakan yang lain, sisi moral dan kepribadian juga butuh perhatian. Di sisi lain, media sebenarnya juga ikut andil dalam pencitraan hasil pendidikan. Terpenting, harus ada produk tradisi belajar yang bagus. Biarkan anak berkembangdi rumah, jadi tugas sekolah tidak terlalu berat. Selama ini yang terjadi, tidak ada pendampingan dari orang tua saat anak belajar di rumah. Seharusnya, kebiasaan belajar harus ditumbuhkan di keluarga.

Terakhir, apa harapan pribadi Bapak terkait pendidikan di Kota Batu?
Saya ingin pendidikan yang komprehensif. Artinya bisa mencakup semua aspek pendewasaan anak-anak sehingga tidak hanya menghasilkan anak-anak yang pintar dalam bidang ilmu, tetapi juga memiliki wawasan yang luas dan keterampilan hidup. Selain pengembangan intelektual, pengembangan kepribadian, Imtak, dan kecakapan hidup juga harus dilaksanakan secara optimal. (*)

Main Boleh, Kuliah Harus Jalan Terus

Diarsipkan di bawah: Gams Mania, IT, Info Pendidikan — franchise bimbel @ 9:26 am

Washington – Tak hanya di Indonesia saja game online bikin remaja, khususnya mahasiswa, jadi kecanduan. Tapi juga di AS sana. Parahnya, game online sampai bikin mereka putus kuliah alias drop out.

Permasalahan ini jelas mendapat perhatian khusus dari Federal Communications Commission (FCC), selaku Departemen Komunikasi dan Informatika-nya Amerika Serikat.

detikINET kutip dari Inquirer, Minggu (14/12/2008), lembaga ini tak ragu menuding WoW alias World of Warcraft, game online yang tengah jadi tren di AS, sebagai salah satu biang keladi drop out-nya mahasiswa.

Pernyataan ini dikemukakan langsung oleh Deborah Taylor Tate, Komisioner FCC. WoW dinilainya turut bertanggung jawab atas kasus drop out ini, semata karena game online tersebut sangat populer dengan 11 juta penggemar berat.

Namun demikian, jelas penilaian FCC bisa dibantah. Pasalnya, tudingan mereka tidak serta merta disertai oleh data dan hasil studi yang valid mengenai korelasi antara kecanduan game WoW dengan angka drop out di negeri Paman Sam ini.

Ya, biar bagaimanapun, memang tak bisa dipungkiri kalau sudah kecanduan game online, penggilanya bisa lupa segalanya. Main boleh, tapi kuliah harus jalan terus, dong.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.