LCC Rawamangun

Oktober 20, 2008

Kecurangan Ujian NAsional

Filed under: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 4:57 am

Menulis tentang guru (dan pendidikan) nampaknya tak ada akhirnya. Wajarlah, kaisar Jepang, selepas Hiroshima dan Nagasaki dibomatomi Amerika Serikat pada Perang Dunia II —satu-satunya negara yang mencobakannya pada manusia— bertanya pada petinggi Jepang: Berapa orang guru yang selamat? Bukan tentara atau ilmuwan. Tapi, ya tetapi, berapa orang guru yang selamat. Mengharukan.

Sampeyan jangan pula iri, (ada warga) Malaysia sebagai bangsa serumpun, dengan gagah perkasa melecehkan Indonesia —dari Indon sampai perlakuan buruk terhadap TKI— karena ‘kecerdikan’ dan kemajuan mereka. Padahal, dulu minta tolong guru-guru Indonesia untuk ‘membenahi’ pendidikannya, 30 tahun lalu. Kini, tergolong negara ‘maju’ diantara negara-negara kasta paria dunia. Semua karena guru. Sekali lagi karena guru.

Bukan keseriusan pemerintah Indonesia yang saya dicemaskan. Itu soal waktu. Pada dasawarsa ke depan yakin, para pemimpin, eksekuti dan legisltaif, ‘dikendalikan’ oleh mereka yang sadar pendidikan. Dalam pikiran nakal, terkadang terbesit: Biarlah Indonesia terpuruk seterpuruknya … asal era anak dan cucu nanti bisa jaya. Kenapa?

Dengan prestasi buruk —kalau perlu ke bibir ‘negara gagal’— akan ada sentakkan sadar: Kalau ingin maju, benahi pendidikan, perhatikan guru. Kapan itu? Entahlah. Yang pasti, di segala lini kesadaran akan pentingnya pendidikan, dalam arti perilaku dan tindakan, memuncul dimana-mana. Lihatlah perkuatan UU untuk memantapkan tapak-tapak pancang pendidikan. Beberapa pemerintah daerah ada yang betul-betul menampakkan kesadaran aksi nyata, bukan sekadar retorika.

Jujur saja, pada posisi demikian, saya menaruh harap pada pendidikan ndonesia. Ya ya ya, optimis. Generasi yang rada-rada cuek terhadap pendidikan, para pengambil keputusan yang dipintarkan oleh gurunya, namun tidak ‘kesetanan’ memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan guru, akan berganti. Tidak ada yang abadi di dunia, apalagi dalam panggung peran. Sabar. Sabar.

Guru Curang
Satu hal yang menyentak, dan menjadi pikiran ketika suatu kali berkomentar pada blog seorang teman: saya geram dengan guru (kalau benar-benar ada) yang ikut curang dan mencurangi ujian nasional UN. Oleh seorang teman, dikatakan tidak pernah ke lapangan. Jujur —di kalangan guru— sudah barang langka. Kira-kira begitu. Guru tidak jujur?

Alkisah, ada kecurigaan curang dalam UN demi mendongkrak kelulusan —kata teman tersebut— bagaimana mungkin guru berkutik, kalau pihak berwenang (saya tidak tulis instansinya, Sampeyan pasti tahu), memerintahkan supaya ‘membantu’ peserta UN —murid-muridnya. Ya Allah, ampunilah mereka. Apa pasal?

Kita juga disajikan berbagai keluhan, bahkan diadukan sampai ke DPR, praktik kecurangan UN. Di kelompok Air Mata Guru Medan atau di Bandung, misalnya, justru guru yang berkendak jujur dapat semprit. Ini pendidikan atau pendidikan curang? Yang salah dibiarkan, yang berusaha benar dicuekin. Kalau benar, sungguh memalukan dan memilukan.

Jujur saja, saya coba kerahkan kemampuan pikir dan landasan llmu kependidikan yang dipelajari secara akademis, ternyata tidak membantu menjawabnya. Kog bisa ya, pendidikan yang dikeluhkan dari segala lini, meluluskan 90% lebih peserta UN. Artinya, ini sukses. Sangat sukses.

Kalau sukses, naga-naganya buat apa (lagi) berjuang, berterak-teriak, kepada pemerintah, terutama kalangan wakil-wakil rakyat, agar lebih memperhatikan, terutama dana untuk pendidikan. Wong dengan keadaan seadanya begini, prestasi UN begitu bagus. Memang UN bukan ukuran satu-satunya, tetapi setidaknya satu indikator.

Guru dengan kualifikasi minim, kesejahteaan nan memilukan, plus sarana dan prasarana sangat tidak memadai, berprestasi begitu bagus. Entahlah, kalau yang menolong menjawab soal-soal UN para guru. Semoga tidak demikian adanya. Sebab, kalau guru ‘menolong’ peserta didik ‘menyiasasti’ UN, persoalannya sangat serius.

Pendidikan Curang
Kalau menolong siswa dalam UN, atau evaluasi apa saja, dampaknya merajut ke depan. Kalau mereka berhasil menamatkan pendidikan, pada lagkah berikut akan tidak berpihak pada jujur dan kejujuran. Mereka akan enteng saja memakai joki, membeli ijazah, atau menyogok untuk mencapai maksud.

Bukan tidak mungkin, kalau memegang kekuasaan, membawa atau memakai barang kantor untuk kepentingan pribadi, bukanlah hil yang mustahal. Korupsi enteng-enteng saja. Menolong anak, keponakan, atau keluarga (jauh) tidak ada masalah, sekalipun menyingkirkan mereka yang lebih berhak. Bukankah ketika bersekolah sudah ‘diajarkan’ praktik curang?

Bahkan, kalau perlu, guru yang memintarkan cuekin saja. Peduli amat dengan kesejahteraan gutu. Toh guru juga dulu yang ngajarin curang. Kalu demikian logikanya kan jadi berabe. Semuanya terpulang pada guru.

Apa pun jadinya, masih banyak, dan lebih banyak, guru yang berprinsip, mendidik jujur dan kejujuran berlandaskan kejujuran. Kalaupun dulu, tahun-tahun lalu, ikut-ikutan ‘mensiasati’ UN, dengan alasan apa pun, atau ‘tekanan’ apa pun, saatnya kembali ke jalan yang benar. Tidak satu agama pun, atau wejangan, yang mengajarkan kecurangan alias keculasan.

Dengan kata lain, mulai tahun ini —kalau ada diantara pembaca tulisan ini— yang mempratikkan curang demi UN, apa pun alasannya, saatnya bertaubat nasuha. Insya Allah, ‘dosa-dosa besar pendidikan’ yang dilakukan sebelumnya diampuni Allah SWT.

Mari lawan pendidikan curang. Pendidikan curang musuh sesungguhnya pendidikan. Jangan sampai (seorangpun) guru pernah melakukannya (lagi). Amin.

http://www.lcc-ptc.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: