LCC Rawamangun

November 21, 2008

Pendidikan di Rusia, Sebuah Pengalaman

Filed under: Info Pendidikan — franchise bimbel @ 3:48 pm

Pendidikan di Rusia, Sebuah Pengalaman

 

BEKAL utama bagi mereka yang ingin belajar di Rusia adalah mampu membaca abjad Kiril. Abjad Kiril terdiri dari 34 huruf, dan berbeda dengan abjad Latin. Maka, di Moskwa tidak ada tulisan berabjad Latin, dan masih banyak orang Rusia yang belum bisa berbahasa Inggris.

TAHUN 1994, dalam rangka penulisan disertasi, saya mulai mencari data dan pembimbing serta melakukan penelitian di Moskwa. Maklum, data-data dan informasi mengenai hal-hal yang diperlukan untuk penulisan disertasi tidak ada di Indonesia. Sementara itu, situasi di Rusia sendiri masih dalam masa transformasi.

Universitas yang saya tuju adalah Universitas Negeri Moskwa (MGU-Moskovskjy Gosudarstvennjy Universitet imeni Lomonosova), sebuah universitas negeri tertua. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kalau tidak salah, universitas ini menempati peringkat ketiga di dunia.

Atas jasa Pusat Kebudayaan Rusia di Jakarta, saya dihubungkan dengan Moskovskyj Linguisticeskyj Centr (MLC- Pusat Linguistik Moskwa), sebuah lembaga swasta yang memberikan kursus bahasa Rusia kepada mahasiswa asing berikut akomodasi dan konsumsi. Setelah di MLC, saya mulai mendatangi Universitas Negeri Moskwa dan berhasil mendapatkan seorang pembimbing, Prof Dr Nikolaj Georgirovich Komlev (alm), yang amat antusias membimbing karena saya merupakan orang Indonesia pertama yang belajar di MGU sejak hubungan kebudayaan Indonesia dan Rusia terputus (1965). Pembimbing lainnya adalah Prof Dr Lyudmila Nikolaevna Demidyuk, seorang dosen yang mengajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskwa Institut Asia Afrika.

Sejak saat itu saya mulai mengikuti kuliah yang diberikan Prof Komlev dalam mata kuliah seminar disertasi. Mengetahui dari Indonesia, saya diminta mengajar bahasa Indonesia di Institut Asia Afrika. Saya merasa beruntung dapat mengajar bahasa Indonesia karena bagi mahasiswa asing yang belajar di Rusia tidak ada kesempatan untuk mencari pekerjaan sambilan yang bisa mendatangkan uang.

Dari mengajar bahasa Indonesia, saya mendapat honor lumayan. Permintaan mengajar bahasa Indonesia ini tidak hanya menarik, tetapi juga penting, karena bisa digunakan untuk memperkenalkan Indonesia kepada mahasiswa. Maklum, informasi tentang Indonesia amat sedikit, buku-buku yang ada pun terbitan lama (tahun 1970-an), begitu pula film-filmnya. Kehadiran saya pun agaknya membuat sejumlah pedagang di Ismailova (tempat penjualan barang-barang khas Rusia) terenyak dan langsung berteriak Soekarno!

SITUASI masyarakat Rusia masa itu belum siap menerima perubahan. Beberapa contoh menarik, perubahan sistem ekonomi pasar dari ekonomi terpusat belum dapat mengubah kebiasaan mereka. Dalam sistem komunis, setiap orang mendapat bagian yang sama rata, pendistribusian dari negara, dan tidak ada pilihan dalam barang. Ketika sistem berganti, konsep lama “semua diatur negara” masih melekat di masyarakat, terutama orangtua yang berdagang. Jika kita ingin memborong seluruh pisang, misalnya, si penjual langsung menjawab “tidak bisa, Anda hanya boleh membeli satu saja, yang lain nanti tidak kebagian.” Dalam menawarkan dagangannya pun demikian.

Saat itu banyak bermunculan surat kabar, mulai dari yang porno sampai yang khusus untuk wanita atau kaum bisnis. Harganya pun bervariasi.

Mengingat perubahan sistem ekonomi tidak sejalan dengan sistem pembayaran, setiap orang mulai berlomba untuk mencari uang. Suatu hari, saya mendapati seorang nenek menjual sebuah koran, Pravda, seharga 100 rubel, padahal biasanya paling murah 30 rubel. Dengan bangganya saya membawa surat kabar itu kepada teman-teman di asrama. Akan tetapi, apa yang terjadi? Seluruh teman tertawa karena surat kabar yang saya beli adalah terbitan dua hari lalu.

Pada masa itu harga buku masih murah dan perkuliahan yang saya ikuti gratis, bahkan Prof Komlev mengizinkan saya mengikuti tiap perkuliahan yang ia berikan. Sementara itu, untuk melengkapi data-data, saya mencarinya di Perpustakaan Lenin (Biblioteka imeni Lenina) atau perpustakaan universitas.

Pemerintah Rusia sendiri memberi banyak kemudahan kepada mahasiswa. Misalnya, pembebasan biaya bagi mahasiswa untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti Museum Pushkin di Moskwa, masuk Lapangan Merah (Krasnaya Plosad). Mahasiswa cukup menunjukkan kartu mahasiswa. Meski harus membayar, biasanya mahasiswa hanya membayar 50 persen.

Begitu pula dalam hal transportasi. Pelajar dan mahasiswa dapat membeli karcis langganan tunggal (edinicnjy bilet) yang berlaku untuk metro (subway) dan transportasi lain seperti bus (tramway dan troleybus). Karcis itu dapat dibeli seharga dua dollar Amerika Serikat untuk penggunaan satu bulan. Bila akan naik kendaraan umum, mahasiswa tinggal menunjukkan kartu langganan kepada sopir atau petugas pemeriksa di tiap halte (di Rusia tidak ada kondektur atau kernet). Jangan coba-coba melubangi karcis, bisa-bisa bukan hanya denda membayar tiga kali harga karcis, bahkan bisa lebih dari itu. Meski demikian, banyak mahasiswa Rusia yang mencoba mengakali. Upaya memasukkan karcis lewat mesin pemeriksaan (seperti dilakukan penumpang biasa) diusahakan agar karcis tidak sampai bolong. Sesampai di asrama, karcis disetrika sehingga bekas lubang tertutup dan karcis bisa digunakan lagi.

SETELAH mengajar, saya biasanya makan siang di Stolovaya “warung” (kantin mahasiswa) dengan menu yang terdiri dari kentang, kotlety (sejenis perkedel yang terbuat dari daging giling tanpa kentang) dengan sup, dan secangkir teh hangat. Harga menu makan siang itu itu 1.000 rubel. Saat itu satu dollar AS sama dengan 2.800 rubel.

Meski saat kuliah, mahasiswa dibebani berbagai tugas, bukan berarti tidak ada waktu untuk berekreasi. Di Moskwa banyak tempat hiburan. Teater yang berisi pertunjukan balet, seperti Bolsoj Teatr (Teater Besar) yang amat terkenal dengan pertunjukan balet Lebedinoe Ozera (Danau Angsa), biasanya amat menyedot penonton. Mahasiswa yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut harus membayar penuh, alias tidak ada “keistimewaan”. Potongan harga diberikan bila pertunjukan sudah berjalan selama 15 menit dan tiket tanda masuk dapat diperoleh dari para calo. Untuk sekali pertunjukan, harga tiket yang semula 50 dollar AS bisa menjadi 20 dollar AS. Saya pun mengambil pilihan tersebut saat ingin menyaksikan pergelaran balet yang amat terkenal itu, apalagi pertunjukan dilakukan di tempat bergengsi.

Itulah situasi umum hidup di Rusia, terutama Moskwa. Pendidikan di Rusia sendiri umumnya biayanya murah dan mampu memberikan kualitas yang bagus. Dari sejarah terlihat, Pemerintah Rusia mempunyai komitmen tinggi dalam hal pendidikan. Karena itu, pendidikan di negara beruang yang tak lagi merah, tetapi putih itu, tetap saja bisa dibanggakan.

Prof Dr N Jenny MT Hardjatno Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: