LCC Rawamangun

Januari 29, 2009

Mencetak Anak Berprestasi

Filed under: Tips and Trik — franchise bimbel @ 10:59 am

Mencetak Anak Berprestasi

 

Bangganya bila melihat buah hati kita termasuk dalam deretan sepuluh besar di kelasnya. Rasanya berhasil mendidik anak. Sebaliknya, yang putranya tak masuk ranking, rasanya gagal sebagai orangtua. Kok sulit sekali si kecil mendapat prestasi di sekolahnya. Bagaimana sih cara-cara mencetak anak agar berprestasi? 

Semua orangtua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang, cerdas dan menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya. Yakni, nilai-nilai pelajarannya oke, dan setiap tahun meraih ranking 1 minimal ranking 3. Jika tidak. Rasa-rasanya si kecil tercinta kok biasa-biasa saja atau malah cenderung bodoh ya. Cap demikian tak hanya diberikan orangtua lho, bahkan guru atau pendidik pun masih banyak yang mencap siswanya bodoh hanya karena mereka tak terlihat menonjol di kelas. 

Menurut psikolog Kita & Buah Hati, Rahmi Dahnan S.Psi, itu pandangan yang sudah out of date. Dalam konteks perkembangan anak, prestasi tak cuma tercermin dari nilai akademik di sekolah. Tapi, setiap langkah positif yang mengarah pada peningkatan dan kemampuan juga disebut prestasi. Sayang sekali, bila orangtua masa kini masih beranggapan, bahwa anak yang berprestasi adalah anak yang mampu meraih nilai tinggi dan duduk di peringkat tertentu, lalu kecewa bila buaha hatinya ternyata tak demikian. 

Setiap anak, jelas Rahmi, punya kemampuan dan potensi yang berbeda. Sehingga tak bisa dipastikan bila prestasi akademik anak jeblok maka ia disebut tidak berprestasi di sekolahnya. Jadi, para orangtua, jangan mau terjebak dalam stigma lama. Sebab, berkutat dengan pandangan tersebut, membuat Anda jadi jatuh percaya kalau si kecilnya bodoh karena mungkin Anda–ayah ibunya–pun tak pintar-pintar amat. 

Yang perlu disamakan adalah persepsi orangtua terhadap prestasi. Kata Rahmi, prestasi itu bisa ada di berbagai bidang, bukan cuma nilai pelajaran sekolah saja. Karena itu, disinilah tugas orangtua mengembangkan potensi dan bakat anak dengan berbagai cara dan usaha. Banyak lho anak yang nilai pelajarannya biasa-biasa saja, tapi ia pandai menari, orangtua mendukungnya les menari, eh di masa remajanya sampai dewasanya, ia berkeliling berbagai negara membawakan tari-tarian. Pada akhirnya, kecerdasan kognitif (intelektual) anak pun terdongkrak karena pengalaman-pengalaman hidupnya serta pergaulannya di masa remaja dan dewasa. 

Jadi, menurut Rahmi, yang terpenting adalah mendukung anak di berbagai bidangnya. Apakah itu pelajaran sekolahnya, dengan mendorong gairah belajar, tetapi juga menemukan bakat dan potensi anak. Dengan cara demikian, banyak bukti lho, nilai-nilai pelajaran anak oke dan duduk di ranking teratas, tetapi juga punya prestasi di bidang lain misalnya, juara tari, biola, lukis, dsb. Bila pun prestasinya di bidang kreativitas saja, bukan pada bidang akademik, tak perlu kecewa. Si kecil tetap bisa sukses di masa dewasanya kelak melalui bakat yang ditekuni dan didukung lingkungannya. 

Untuk mendongkrak prestasi anak, komunikasi antara orangtua dengan guru juga harus ditingkatkan. Selain membicarakan tentang pencapaian si kecil di sekolahnya, orangtua pun harus menginformasikan ‘kelebihan-kelebihan’ si kecil lainnya, sambil masukkan pesan untuk tak terlalu ‘menekan’ si kecil mencapai nilai tinggi. Artinya, orangtua seharusnya satu sampai dua langkah lebih maju dari guru, sehingga bisa memberi masukan, pesan-pesan, untuk kualitas sekolah sekaligus kualitas muridnya, putra-putri Anda sendiri.

Mendongkrak Prestasi Anak 
Perhatikan Bakat Anak 
Keinginan orangtua mencetak anaknya jadi berprestasi wajar saja. Apalagi jika sikecil punya kemampuan untuk itu. Misalnya senang membaca, suka olahraga, seni, IPA, dll. Namun, untuk mecetak anak berprestasi, orangtua harus melihat apa bakat anak. Jika anak tak berprestasi di bidang akademik tak perlu ngotot. Memaksakan anak berprestasi sesuai dengan keinginan orangtua dapat membuat anak stress. Prestasinya malah bisa semakin menurun. “Cobalah bersifat arif dengan mengembangkan bakat yang dikuasai oleh anak. Sehingga bakat yang dipunya tidak mubazir,” kata Rahmi. Caranya? 

Ajaklah anak bicara apa saja yang disukainya di luar mata pelajaran wajib. “kalau les tari kamu suka enggak, atau les musik, atau les melukis, mana yang kamu sukai?” Setelah bicara, ANda pun harus konsisten dengan menyediakan kebutuhannya untuk mengembangkat minatnya. “Jika setiap anak difasilitasi kebutuhan dan keinginannya, bakat dan kecerdasan intelektualnya dapat berkembang bersama. Karena, anak yang memiliki bakat akan melakukan pekerjaannya dengan kreatifitas yang berbeda dibanding anak lain,” ucapnya. 

Pacu Gairah Belajar 
Nilai tinggi yang diperoleh pada setiap bidang studi memang penting. Namun bila orangtua menekankan nilai tinggi atau peringkat sebagai tujuan, anak akan mati-matian mencapai nilai tinggi, tanpa menghiraukan proses pencarian nilai tersbut. Sehingga ia berani mencontek demi mendapat nilai bagus. 

Sebaiknya, kata Rahmi, lebih positif memacu agar anak mau berprestasi dengan menanamkan manfaat sekolah. “Sehingga akan tertancap di hati anak tentang pentingnya sekolah, dan akhirnya menyadari untuk bertanggungjawab.” Tanamkan pentingnya sekolah sedini mungkin. Caranya, saran Rahmi, bisa dengan metode pemerian pilihan. Metode pilihan membiasakan anak berhadapan pada pilihan, sehingga merangsang anak untuk melakukan analisa sebelum menentukan pilihannya. Misalnya Rahmi mencontohkan,tentang hal yang menarik yang bisa membangkitkan semangat belajar. “Dek, kalau mau jadi penerbang seperti papa, harus rajin belajar. Jadi pilot bisa berkunjung ke berbagai negara lho.” Cara ini menurut Rahmi bisa memacu semangat berprestasi anak. 

Selain gambaran mengenai profesi yang menjadi kesenangan anak, sikap orangtua yang suka memberi penghargaan pada setiap prestasi anak, akan menumbuhkan rasa pede untuk terus berprestasi. Namun Rahmi menekankan, dalam memberikan penghargaan orangtua harus proporsional.”Sebaiknya tidak memberikan reward dalam bentuk materi. Tepukan bahu, belaian atau pelukan saat anak mendapat prestasi tetap membuat anak senang dan pede, karena merasa dihargai,” jelas Rahmi. 

Sediakan Sarana & Rajin Berkomunikasi 
Lingkungan rumah juga memberi andil pada pencapaian prestasi anak. Dengan memberi dukungan, perhatian, dan menyediakan sarana untuk memacu mereka terus berprestasi sesuai bidang yang diminatinya.”Lingkungan dan budaya keluarga yang berpendidikan baik bisa mendorong anak untuk berprestasi baik pula. Dengan melihat sekelilingnya, si kecil bisa terpengaruh untuk berprestasi bagus.” 

“Perhatian orangtua ketika anak belajar akan membuat anak merasa nyaman dan percaya diri,” Rahmi mengingatkan. Perhatian dalam pelajaran tidak harus bersifat mendikte. Dengan duduk di dekat anak, dan menunjukkan sikap antusias saat anak bertanya akan membuatnya semangat belajar. Perhatian lainnya pun ikut mendorng semangat anak. Yakni dengan memfasilitasi dan melengkapi keperluan sekolah, akan membuat anak terpacu untuk berprestasi. 

Karenanya, lingkungan rumahpun harus senyaman mungkin. Sebab hubungan ayah dan ibu bisa mempengaruhi prestasi anak. “Orangtua yang sering bertengkar, membuat anak stres, dan akhirnya tak bisa konsentrasi belajar.” 

Ikutkan Kursus 
Adakalanya anak yang biasanya pretasinya bagus, pada waktu tertentu menurun drastis. Menurut Rahmi, menurunnya prestasi anak biasanya dipengaruhi faktor emosi anak. Orangtua harus mencari penyebabnya. Mungkin ada situasi yang membuatnya tertekan, misalnya perlakuan negatif dari orang lain, minimnya komunikasi dengan orangtua, di antaranya menjadi penyebab prestasi anak menurun drastis. 

Bila penyebabnya sudah diketahu, orangtua harus bisa segera mengatasinya. Setelah itu, mendorong lagi motivasinya untuk kembali semangat belajar. “Motivasi terutama dimaksudkan untuk meningkatakan kepercayaan diri dan membuat anak merasa nyaman saat belajar.” Mengatasi emosi anak, kata Rahmi juga bisa dengan mengikutkan anak pada kegiatan ekstra. Misalnya diikutkan kursus menari, menyanyi, olahraga. “Kegiatan tersebut membuat anak melupakan hal-hal yang mengganggu emosinya. 

Komunikasi dengan Guru 
Komunikasi dengan guru harus ditingkatkan. Jika biasanya orangtua berkomunikasi dengan guru hanya saat menerima rapor saja. Ada baiknya orangtua perlu secara berkala mengunjungi guru, paling tidak satu bulan sekali. Guru akan sangat menghargai orangtua yang rutin menanyakan perkembangan anaknya di sekolah. “Kalau orangtua proaktif, guru juga tertular semanagat unuk menginformasikan perkembangan anak di sekolah. Dengan begitu, berbagai persoalan yang menyebakan maju mundurnya prestasi belajar anak bisa teramati.” 

Tanggulangi Turunnya Prestasi Belajar 

Orangtua harus mengintrospeksi dirinya, bisa saja penyebabnya kurang perhatian Anda. 

Ajaklah anak berdiskusi dengan menyelami perasaan anak agar anak terbuka mengemukakan perasaanya. 

Lakukan komunikasi yang memadai dengan anak. 

Ingatkan kembali anak akan manfaat sekolah. 

Berikan reward yang proposional pada anak sesuai dengan prestasi yang diraihnya 

Guru harus menimbulkan rasa cinta belajar pada muridnya dengan menciptakan metode belajar yang menyenangkan murid 

Tanamkan disiplin dalam pelajaran dan sekolah pada anak 

8 Trik Mencetak Anak Berprestasi 

Sediakan peralatan yang mendorong anak belajar. 
Misalnya bahan permainan yang merangsang rasa ingin tahu anak, seperti puzzel, alat lukis, lego, komputer,dll. 

Ciptakan Kehidupan Teratur Dalam Keluarga 
Rumah tangga yang harmonis, dengan kasih sayang yang rata pada seluruh anggota keluarga sangat mendukung perkembangan kemampuan anak. 

Bacakan Cerita 
Mendongeng bisa mendorong kemampuan membaca anakdan kosa kata anak serta pengalaman mereka. 

Ciptakan Suasana Gemar Membaca 
Dengan mempunyai kesukaan membaca, anak belajar menyerap pelajaran dan memperluas pengetahuan. 

Dampingi Anak Saat Mengerjakan PR 
Menndampingi anak mengerjakan PR adalah saaat yang tepat untuk mengajari mereka cara mengerjakan soal yang baik, bagaimana memahami pertanyaan, mana yang harus dikerjakan dulu, dllnya. 

Berkolaborasi Dengan Guru di Sekolah 
Menjalin hubungan yang baik dengan guru disekolah punya banyak keuntungan. Diantaranya kita bisa memperoleh informasi perkembangan anak, dan mendorong anak bersikap baik di sekolah. 

Masukkan Anak ke sekolah yang baik 
Keberhasilan anak disekolah ditentukan oleh standar keberhasilan di sekolah. Standar yang tinggi bisa memacu anak untuk mencetak prestasi lebih baik. Tapi standar tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik anak. 

Ajari Disiplin 
Ajari anak disiplin. Ini sangat penting dengan mengajarkan disiplin mereka mengerti mengatur waktu kapan belajar. Jangan lupa bantu anak untuk berkonsentrasi dan mengingatkan waktu disiplinnya. (Esi/ sumber: Edy Gustian, S.Psi, anakcerdas dengan prestasi rendah) 
Sumber: Tabloid Ibu & Anak 
cyberwoman

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: