LCC Rawamangun

Februari 25, 2009

Kebiasaan Anak Nonton Televisi harus Dikurangi

Filed under: Berita LCC,LCC News — franchise bimbel @ 10:05 am

YOGYAKARTA–MI: Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi minta para orang tua untuk mengurangi kebiasaan anak menonton televisi, mengakses internet dan menggunakan telepon seluler. Konsumsi anak terhadap siaran televisi, internet, dan telepon seluler harus dikurangi, katanya dalam seminar reaktualisasi pendidikan tanpa kekerasan, di Yogyakarta, Sabtu (21/2). Ia mengatakan, ketika anak terlalu banyak mengonsumsi televisi, anak terlihat duduk manis, tetapi pada kenyataannya mental mereka mengembara ke mana-mana. Menurut dia, televisi hanya memberikan porsi sebesar 0,07 persen untuk bidang pendidikan sehingga orang tua harus mampu bersikap proaktif mengambil alih peran sebagai pendidik di rumah. Secara psikologis anak akan selalu mengidolakan orang tua mereka sehingga orang tua dituntut memiliki waktu yang berkualitas untuk mendampingi anak-anaknya sehingga anak tidak mengalihkan perhatian ke media elektronik, ujarnya. Sementara itu, Tupardi, seorang guru yang hadir dalam seminar tersebut mengatakan, pengaruh media elektronik membuat anak didik tidak konsentrasi belajar di kelas. Menanggapi hal itu, Seto menyatakan para guru dan orang tua harus memiliki komunikasi yang efektif sehingga terjadi keselarasan antara pendidikan di jalur formal dan pendidikan di rumah. Ia menambahkan, salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah memberikan pelajaran kreatif di sekolah, bukan hanya pelajaran yang bersifat komando satu arah dari guru. Beberapa sekolah unggulan banyak yang sukses karena turut menggandeng orang tua untuk bekerja sama mewujudkan pendidikan kreatif, ujarnya. Ia juga menegaskan, sebagai seorang pendidik, guru harus mampu memahami psikologi anak, bahwa anak bukan orang dewasa mini, dunia mereka adalah dunia bermain, masih berkembang secara fisik dan psikologis, suka meniru dan kreatif. Anak juga pribadi yang unik, kecerdasan mereka juga unik, sehingga tidak bisa disamakan, katanya. Dikatakannya, kemampuan guru untuk memahami anaktidak bisa diperoleh dengan cara yang singkat, tetapi melalui proses berlatih secara terus menerus. Memberikan pendidikan dan bertutur kata yang sistematis dan teratur akan berdampak pada perilaku anak yang positif, katanya.

(Ant/OL-03) Sumber: Media Indonesia Online http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NjE4MDQ=

http://www.lcc-ptc.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: